Minggu, 06 November 2011

Kerajinan Gerabah tanah Bungku Morowali

Ina Tonto (58), begitu perempuan setengah baya ini kerap disapa. Ditemui ditengah kesibukannya membuat kerajinan gerabah dirumahnya yang terletak di desa Tofuti kec. Bungku Tengah, Morowali (17/05), ibu dari enam orang anak ini sedikit berbagi cerita tentang keahliannya membentuk berbagai macam jenis kerajinan gerabah.
Kerajinan gerabah atau tembikar dalam bahasa bungku sering disebut “Inembi”. Inembi dilakukan dengan membentuk tanah liat menjadi berbagai macam jenis dan bentuk seperti guci, tempat dupa, wajan, belanga, tungku, asbak, pot dan vas bunga serta bentuk landscaping lainnya. Campuran tanah liat serta pasir halus yang diolah dalam takaran sesuai mampu menghasilkan ornament-ornament khas yang indah mempesona.
Baca selengkapnya »

Label:

Pulo Paku, eksotika bibir Pantai Morowali

Letaknya yang terbilang strategis karena berada diantara teluk tomini dan teluk Tolo membuat Morowali terlihat mengesankan. Dukungan gugusan pulau-pulau kecil yang tersebar melebar dari timur hingga kearah barat menambah eksotika negeri gemuruh air Morowali nampak tiada duanya

Morowali sekurang-kurangnya boleh berbangga memiliki banyak pulau-pulau kecil berpenghuni. Pulau kecil adalah sebuah pulau yang memiliki luas kurang lebih 12 KM persegi. Ditahun 2003 lalu pulau di Morowali ditetapkan sebagai salah satu pulau prioritas atau pulau percontohan dari tiga pulau di Indonesia yang jadi pilot project oleh Dirjen Pemberdayaan Pulau-pulau kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Bayangkan saja, dari sekitar 17.480 pulau kecil di Indonesia, Morowali menjadi salah satu dari tiga pulau prioritas diantaranya.
Baca selengkapnya »

Label:

Kamis, 03 Maret 2011

BAB II : NEW WORLD ORDER (bag I)

Aku di kejutkan dengan sebuah tepukan halus dipundakku,terbangun dan menyadari,orang-orang telah terkumpul untuk shalat subuh berjamaah,bergegas aku mengambil air wudhu dari salah satu sumur tepat dibawah tangga yang langsung menghubungkan lantai dua gedung ini dan tanah kosong samping kiri gedung,disana aku melihat sekumpulan pemuda yang tidak aku lihat hari sebelumnya,mereka berwudhu,jumlah mereka sekitar lima belas orang,di punggung mereka menenteng senjata Kalashnikov MX2,senjata yang umum dipakai para milisi,di berbagai wilayah konflik,senjata ini buatan rusia,hasil pengembangan dari jenis kalashnikov yang memang cukup populer diawal abad duapuluh,aku cukup tahu tentang seluk beluk senjata,surfing internet menjadi bagian hidupku,sebelum hari yang menjengkelkan ini terjadi, detail kalashnikov MX2 juga kutemukan diinternet,yang mulai dirancang sekitar tahun 2013,tepat tiga tahun sebelum aku dilahirkan. Wajah para pemuda ini nampak bercahaya dengan gurat ketegaran yang nampak,jenggot mereka lebat,pakaian mereka jubah putih,dengan sorban yang hanya diikatkan dikepala mereka,kuucupkan salam dan  menyalami salah satunya,seorang pemuda yang mengaku bernama kholid al Bugisi,yang berarti Kholid dari bugis. Tidak sempat kami berkenalan,mengingat waktu subuh yang hampir menjumpai penghujung.
Kali ini jamaah sangat banyak sekitar lima puluhan orang,ruangan mulai terasa sesak,seusai shalat imam memberikan Tausiah dan pesan-pesan,imam yang berbeda dari hari sebelumnya,tak ada wajah yang kulihat sebelumnya kecuali beberapa orang saja. Mereka melewatkan waktu berdzikir,hingga matahari nampak putih di ufuknya, seorang pemuda menghampiriku dan menanyakan keadaanku,kami berbincang singkat lalu ia menyuruhku mengikutinya., Aku mengikuti jalan setapak yang memisahkan dinding kiri swalayan dengan sebuah tembok tinggi dan panjang,berjalan cukup panjang,menyenangkan bisa melihat matahari pagi mengintip dari celah-celah awan yang sepertinya bergerak perlahan ke arah timur,kupecepat langkahku agar tidak ketinggalan dengan pemuda yang datang menyampaikan pesan bahwa aku diminta untuk bertemu Amir (amir adalah sebutan mereka bagi pemimpin),kususuri pinggir tembok , yang ternyata mengarah kesebuah terowongan panjang,namun tidak segelap bangunan swalayan,jarak sekitar seratus lima puluh meter,ada lampu penerang di jalur terowongan ini, sampai  disebuah sudut kami menuruni tangga yang cukup lebar,sepertinya ini sebuah station kereta bawah tanah,atau semacam bungker raksasa,ada beberapa penjaga terlihat dipos-pos,mereka memperhatikan aku dengan mata yang sangat tajam,sampai ditikungan yang lain,sekitar empat orang pemuda tiba-tiba mendekatiku,memegang pundakku,lalu mataku ditutup dengan sehelai kain,aku terkejut bukan main,
“afwan akh,ini hanya prosedur untuk keamanan,tenang saja” salah seorang dari mereka menjelaskan kepadaku.
Aku hanya bisa diam,sesaat kemudiaan tubuhku seolah bergetar,greeet…greeet, bunyi besi yang beradu dengan besi lainnya, aku serasa menaiki Roller coaster,angin menerpa wajahku,tak ada suara lain,selain nyanyian roda besi yang berduet dengan rel dan mengeluarkan suara layaknya pertarungan pendang antara para pendekar. Aku yakin,ini sebuah gerbong kereta kecil tanpa atap,walaupun aku tak melihatnya. Pikiranku makin tak karuan,ada apa sebenarnya,mengapa pimpinan mereka ingin aku menemuinya.
Muhammad Fathul Bari, itu namamu nak?”. Penutup wajahku dibuka beberapa menit kemudian,aku tak lagi mendengar suara gemerincing rel, Sebuah suara berat dan serak menggantikan suara itu, dari seorang lelaki Paruh baya dengan jenggot lebat memutih dan Songkok Putih.
“iya, benar ustadz”
Hmmm Ustadz Nu’man (Imam shalat maghrib hari sebelumnya) telah bercerita padaku,tentang kedatanganmu kemarin”. Betul kau naik perahu bermesin dari Suawesi tengah hingga sampai kesini?”
“iya, benar ustadz”
“ Apakah engkau tidak pernah berpapasan dengan kapal Paraboloni dilautan?”
“maksudnya Kapal dengan nama paraboloni yah Ustadz?”
Paraboloni,Mereka kesatuan Milisi Kristen, mereka melakukan perlawanan terhadap Klan Illuminatus disekitar wilayah timur. Persenjataaan mereka cukup baik,ada beberapa Kapal tempur laut yang mereka operasikan.”
“Apakah mereka berjubah hitam-hitam ustadz?”
“Kadang mereka dikenali dengan dengan pakaian hitam-hitam mereka,namun biasanya mereka juga berpakaian militer,dimana kamu melihat mereka?”
“saya kurang yakin ustadz,sepertinya masih disekitar daratan Sulawesi tengah waktu itu,saya bersembunyi disebuah pos pengintaian,sepertinya mereka mengisi persediaan air ke Kapal mereka,beberapa dari mereka kelihatannya seperti sedang melakukan shalat,tapi dileher mereka ada Salib” aku cukup yakin dengan jawabanku.
zheloota sebutannya, shalat mereka nak,hanya saja gerakannya berbeda dengan kita kaum Muslimin,waktunyapun berbeda,mereka melakukan zhelota tujuh kali dalam sehari. Dan Kaum Kristen dinegeri kita baru mempopulerkan zhelota sekitar Tahun 2017. Itupun menimbulkan pro kontra yang cukup hebat dikalangan mereka waktu itu”
“apakah saat ini mereka berperang dengan kita ustadz,ataukah mereka berada dipihak yang sama dengan kita untuk menumpas illuminati?”
“hmmmmmm, entahlah nak,keadaan ini membingungkan semua Pihak,ini adalah keadaan perang yang Paling membingungkan sejak Bumi ini ada.engkau tinggal menjalaninya,dan bertahan semampumu.tidak semua orang mampu memegang amanah dengan teguh saat ini. Bagi kita kaum Muslimin jelas Musuh kita yang nyata adalah adalah siapa saja yang menyerang aqidah kita,membunuhi kita,dan bekerjasama untuk memerangi kita,dan ingat dan musuh paling nyata adalah syaithan,baik dari kalangan Jin Maupun Manusia”
Pertemuanku dengan lelaki yang kupanggil Ustadz ini membuatku sedikit mengerti keadaaan yang sesungguhnya dari huru hara ini, Lelaki setengah baya yang dikenal dengan Panggilan Abu Abdillah bin Yazid Al-Atsary,adalah Amir kelompok ini,beliau memimpin jamaah menjaga front garis depan,dengan sekitar empat Ratus lima Puluh lasykar,yang merupakan bagian dari sebuah kelompok besar lasykar Kaum Muslimin yang tersebar diseluruh Dunia yang dikenal sebagai Athaifah AlManshurah Ahlussunnah wal Jammah.dan beliau penuh ketegaran menceritakan Padaku awal fitnah ini.
                    ***

Label:

Minggu, 12 Desember 2010

Sang Peziarah

      Sore hari yang merah,mataku menatap kaku di rimbun tulang belulang manusia,di sekitaran jalan yang dulu dikenal sebagai perintis kemerdekaan kota Makassar,tulang-tulang yang dulunya dimiliki jasad cantik dan tampan,kini berselimut debu,kota ini kosong,sudah dua hari aku meninggalkan perahuku,aku kehabisan makanan,terdampar di kota yang lagi-lagi kosong,seperti kota Bulukumba yang kusinggahi sebelumnya,kosong,merah,penuh debu. Ah aku tak tahan lagi,perutku tak menyentuh makanan sejak tujuh hari terakhir,bahkan daun-daunpun sulit kutemukan.tas ransel yang kubawa isinya tak pernah bertambah atau berkurang,namun terasa makin hari makin membebaniku,ransel tua ini menjadi temanku sejak kekacauan ini terjadi. Tidak dapat kupastikan dengan jelas,dari catatanku aku menduga bahwa sejak huru hara ini terjadi aku telah menjadi gelandangan selama Sembilan bulan. Dan beruntung hingga hari ini tas ransel kusam ini masih menemaniku,isinya bagiku amat berharga melibihi dunia dan seisinya,sebuah mushaf qur’an dan terjemahan,dan sebuah kitab hadist tebal gabungan dari shahih bukhari dan Muslim,dan beberapa catatan dari kakekku yang beruntung wafat sebelum huru hara ini menghancurkan peradaban,sebuah senter besar dan pisau dan sebuah pistol revolver dan beberapa peluru yang kutemukan ditangan sebuah mayat yang mulai menjadi belulang beberapa bulan lalu,pakaianku yang menempel di tubuh empat lapis belum pernah kuganti sejak aku “menjarah”sebuah mall yang luluh lantak di  kota  tak berpenghuni,aku tak yakin kota apa waktu itu,tapi dari daratannya aku sedikit menduga itu kota kendari,dan pakaian ini,baunya masih sama dan akan selalu  sama sejak aku pakai pertama kali hingga robek sana sini,yah bau debu amunisi atau apalah,seperti itu baunya.aku kurang mengakrabi  bau lain selain harumnya Bau Bunga. Karena sebelum huru hara ini terjadi ibuku adalah seorang penjual Bunga dengan usahanya yang cukup laris. Aku akrab dengan Harumnya Bunga, aku dan ayah dan serta tujuh saudaraku yang lain juga terlibat dalam membantu ibu memajukan usaha bunganya, ayahku seorang ustadz sering mengisi ta’lim di masjid,beliau juga memiliki usaha peternakan sapi berbisnis atau bedagang baginya adalah ibadah besar,beliau percaya bahwa berdagang adalah pintu rejeki terbanyak dari pintu rejeki lainnya,namun tanggung jawabnya sebagai da’i dilaksanakan dengan  penuh amanah. Begitulah, dan pakaian ini masih menempel dengan warna yang berubah menjadi kecoklatan,hampir seirama dengan rambutku yang juga kecoklatan dan kusam serta tidak tertata baik,gondrong kata orang-orang dijaman bapakku,dengan jenggotku yang makin memanjang,aku kelihatan seperti seorang ulama timur tengah berusia enampuluh tahun padahal usiaku saat ini masih beranjak delapan belas tahun. Aku menyisir sepanjang kota kosong ini,pandanganku kulempar jauh dari tempatku berdiri,saat ini aku masih terlalu yakin bahwa aku sendiri,hingga aku melihat seekor kucing berbulu abu-abu,mencakar-cakar dinding sebuah bangunan besar yang didindingnya penuh bertulis cat merah,ada beberapa kalimat yang di tulis sangat besar “GANYANG JIRAN RAKUS”,“TOLAK IDEOLOGI-SPRITUAL KUSAM WAHHABY, ANTI DEMOKRASI”, ”HIDUP DAN MATI DENGAN SOSIALISME-IMAMAH”, “SATU KATA NEW WORLD ORDER!!” sebuah kata yang membuatku jijik,  propaganda revolusi dimana-mana, sebuah awal dari malapetaka. Tak kuhiraukan tulisan itu,aku tertarik pada kucing itu,sama denganku makhluk yang masih tersisa pikirku. Aku mencoba mendekatinya,memperhatikannya,ragu dan khawatir bahwa kucing ini mutasi yang mungkin saja taringnya beracun dan runcing. Aku memperhatikan dinding,cakarannya meninggalkan bekas yang jelas, “meooong” suaranya memperjelas bahwa dia kucing biasa juga,dan memperjelas bahwa dia bukan kucing kelaparan,mencakar dinding kenapa pula dengan dindingnya,apakah dia juga membenci tulisan-tulisan revolusioner sepertiku,aku tersenyum sendiri,aku tahu bahkan burung-burungpun juga membenci keadaan ini,revolusi. Kucing itu memandangiku sesaat dan berlalu pergi,melewati sebuah celah dinding yang lobang,aku menghela napas,aku merasa  kehilangan aroma makhluk hidup. Kuperhatikan kembali bangunan ini, papan namanya masih tersisa sepotong, tapi aku masih bisa mengeja potongan logam Billboard bertuliskan “Four”. Empat…,aku coba mengingatnya,hmmm yah Carre four, sebuah swalayan besar waktu itu,sebuah swalayan yang sering muncul di televisi,akibat berita tentang huru hara dan penjarahan,tapi aneh, disemua tempat swalayan  telah dibakar dan dijarah para perusuh. Bagiku cukup menyisakan pertanyaan jika masih ada swalayan yang utuh, lebih aneh lagi kalo Cuma papan iklanya yang rusak. Namun bagiku tetaplah lebih aneh bertemu kucing abu-abu segar bugar. Penasaran, Aku mengikuti arah perginya kucing itu, lubangnya tetap kecil bagiku padahal aku tak segemuk dulu. Aku memutar otak untuk masuk  ke swalayan ini,berharap aku bisa kembali bugar seperti kucing tadi,aku mengitari bangunan itu,lewat pintu belakang.ada sebuah basement disana, lamat-lamat kudengar sebuah deru mesin, aku tak yakin.terus berjalan masuk ke basemet yang dulunya dijadikan parkiran,bukan menebak disana masih ada tertulis jelas Parking Area,di sudut yang lain tertulis “Ikuti arah ini” disudut yang lain lagi masih ada tulisan “lucky  Jalur Kanan”. Aku teringat sebelum kakekku wafat beliau pernah menghadiahkan aku sebuah lucky, kendaraan mungil serupa mobil tapi lebih kecil lagi, tak memakai bahan bakar seperti zaman kakekku,tapi menggunakan charge baterai sebagai powernya. kendaraan buatan china yang begitu popular dalam satu decade terakhir sebelum bom pertama meluluhlantakkan Jakarta bulan February 2031 atau satu setengah tahun sebelum hari ini.yah tepat satu setengah tahun sebelum Pasukan ASEAN Uniforce menyatakan perang terhadap negeri ini,akibat ulah jenderal ambisius Pradewo dari klan Illuminatus yang melakukan kudeta dan akan menganeksasi seluruh Negara ASEAN untuk menjadi bagian New World Order.
“Haloooooo, hoiiiii”. Aku berteriak ,berharap ada yang mendengar
 oiii..oiiii..oiii …. Sepertinya aku mendengar suara teriakan,ku ulangi teriakanku, suara balasan itu kembali muncul,kuulangi lagi dan lagi,hmmmm itu hanya gema suaraku sendiri.aku berjalan makin kedalam,sebuah tangga menuju lantai satu,kuikuti berputar melingkar keatas,ragu-ragu mataku tetap kulempar jauh kedepan, pengap bau anyir dan entahlah bau aneh lainnya seakan mengerubutiku saat aku hampir memasuki mulut lantai satu gedung ini,gelap aku menyalakan senter,langkahku gemetar, perlahan pistol revolver kukeluarkan,aku takut dan trauma ketika berada di sebuah kota keadaannya pernah seperti ini,seolah dejavu tapi nyata,pengalaman dikejar sekelompok kanibal kelaparan dikota sebelumnya membuatku lebih hati-hati.kalau bukan karena kelaparan aku lebih memilih tinggal diperahu dan tetap berlayar hingga kutemukan peradaban yang lebih normal dari keadaan ini. ‘kreeeeek’ aku menginjak sesuatu suara gemanya keras,aku terkejut menoleh kebawah sepertinya aku menginjak sesuatu yang akan membuatku merinding,tengkorak kepala mungkin pikirku,senter kuarahkan kekakiku,lega ternyata hanya sebuah jam meja berbentuk elips ,aku memungutnya jam itu masih aktiv,menunjukkan waktu pukul 4:42,hampir maghrib.aku maju terus,suara deru mesin makin terdengar dekat,sepertinya suara genset,antara gembira dan was-was,berharap ada manusia normal disana bukan kanibal egois.aku mendekati sumber suara itu,makin dekat makin terdengar jelas,aku berusaha memastikan suara deru itu adalah mesin genset,aku mencari ruangan yang berlampu,namun gelap masih menyelimuti,kususuri lemari-lemari yang dulunya memajang produk-produk retail,tikus-tikus sekarang menjadi penghuninya,aku makin masuk kedalam,kali ini aku bulatkan hati,dilemma antara mundur kemudian kelaparan,atau maju dengan resiko disergap kanibal,tapi kemungkinan mendapatkan makanan.
                    ***
    Tikus-tikus ini terdengar makin riuh,anehnya aku merasa tidak terganggu sama sekali,padahal hewan ini amat sangat menjijikkan bagiku sebelumnya,suara tikus-tikus ini  sekarang seperti suara mangkuk bakso yang berbenturan dengan sendok ,yah mangkuk bakso dengan bumbu yang pas!dan saus tomat tambah ayam goreng,awww awww aku makin lapar,bakso tikus pikirku. “nanti saja” aku bergumam kecil.kuteruskan langkah-langkah kecilku,aku sampai pada sebuah tangga yang sepertinya juga meliuk kanan menuju lantai di atas. Kuikuti naluriku bergerak, tiba-tiba suara yang tak asing bagiku kembali terdengar ‘duarrr’, sebuah bom namun entah dimana kali ini mendaratnya,sepertinya sangat jauh,suara bom dalam sehari ini telah kudengar empat kali,namun intesitasnya makin berkurang,beberapa bulan lalu suara bom bersahut-sahutan dalam seharinya ratusan kali.semoga kekacauan ini segera berhenti,semoga negeri ini kembali dipimpin pemerintah,yah kali ini aku benar-benar menyadari arti pentingnya sebuah pemerintahan, chaoss besar melelahkan keadaan yang kacau ini,melelahkan pula melihat tangga menuju lantai dua ini lebih panjang dari tangga sebelumnya.
aku makin yakin sumber suara ini ada dilantai ini,sepertinya lantai ini lebih bercahaya dari lantai sebelumnya,baunya pun lebih manusiawi,aku bergegas naik,terburu,hampir hilang kendali dan mawas diri,tiba-tiba "ngaoooooo" lagi-lagi aku menginjak sesuatu,kali ini aku yakin sebuah kepala,yah sebuah kepala,sepersekian detik aku menoleh kebawah,benar saja tak salah sebuah kepala kuinjak,kepala kucing yang tadi,kontan sebuah cakaran menggamit tumitku,ahhh pantas suaranya berbunyi ngaoooo,aku makin merasa lapar dengan kekagetan ini,kucing itu melompat dan berlari,aku memperhatikannya memasuki sebuah ruangan yang kelihatannya bercahaya didalamnya,aku mengikutinya, beberapa puluh meter sebelum mendekati pintu ruangan itu sebuah angin panas dan suara tembakan menyambar kedekat telingaku spontan aku tiarap,dorr..dorr beberapa rentetan tembakan membuatan kelipan cahaya disekitar tempatku tiarap,lalu disusul tembakan sahut menyahut yang kesemuanya mengarah padaku,aku benar-benar ketakutan,hingga tak sempat berpikir untuk menggunakan revolver tua ini.

"siapaa disanaa?" suara dari arah depan terdengar,aku diam,bingung,sebuah tembakan kembali mengarah hampir mengenai betisku.
" saya pak, nama saya Muhammad Pak,muhammad Fathul bari" jawabku gugup bercampur antara takut dan lapar
"kamu dari mana,dan berapa jumlah kalian disitu?" kembali suara itu menggertakku
"aku sendirian pak,aku cuma singgah cari makan"
"baiklah,tinggalkan senjatamu jika ada,berdiri dan masuklah diruangan yang ada lampunya,kamu mengerti?"
"baik pak,jangan tembak saya,kalo kalian tidak suka saya bisa langsung pergi dari sini pak"
‘ayo cepat,sebelum kami menghabiskan peluru kami ketubuhmu” suara itu makin menakutkan
Aku bergegas berdiri menuju ruangan yang dimaksud,,disana ternyata lebih luas dan terang,dan baunyapun lebih menyenangkan,sekelompok orang tiba-tiba mendorongku masuk kedalam,mereka berpakaian militer dan berjanggut lebat, didalam ruangan yang terang itu aku melihat sekumpulan buku-buku disusun rapi,sebuah karpet berwarna biru,sebuah radio komunikasi beberapa perlengkapan elektronik,sepertinya,aku kurang tahu benda apa itu berdampingan dengan radio kominikasi,yang dicolok disebuah stop kontak,ruangan yang terang dan berlampu,akupun paham bahwa ini adalah markas,tapi entahlah markas kelompok mana,maklum setelah huru hara ini terjadi,dan pemerintahan dikudeta militer,maka banyak kelompok bersenjata bermunculan dan berperang satu sama lain.
“duduk” suara agak berat dari seorang lelaki berjanggut lebat,aku menaksir umurnya sekitar lima puluh tahun
“darimana asalmu nak”
“aku dari kabupaten vita to bungku” jawabku
“kamu agama apa ?”tanyanya lagi
“aku muslim”
‘bagaimana kamu bisa ada disini?”
Pertanyaan ini cukup panjang kujawab,aku menceritakan dari awal hingga akhirnya aku sampai kegedung ini. Orangtua berjenggot lebat ini menanyaiku cukup lama,setelah melihat aku sangat kelelahan dan kepayahan barulah aku disodori makan,sebuah roti kering berkuah serta tiga butir kurma,makanan yang aneh tapi tetap saja sangat nikmat bagiku yang tak menyentuh makanan selama seminggu,aku benar-benar lahap. sehabis menikmati makanan,kami meneruskan shalat maghrib berjamaah,orang tua yang menanyaiku tadi menjadi imam,selesai shalat aku memperhatikan ada sekitar dua puluhan orang mengikuti shalat ini,mereka berzikir sendiri-sendiri dengan khusu’. Ada rona harap diwajah-wajah mereka,butiran bening mengalir dari kelopak mata mereka yang basah, demikian juga denganku.
                        ***
Seusai shalat maghrib, seseorang dari mereka usianya kira-kira hampir sama dengan imam tadi  memberikan tausiah kepada kami, dia mengingatkan kepada kami untuk lebih sabar dalam menghadapi fitnah ini,agar lebih mengokohkan persaudaraan sesame muslim,dan beberapa istilah arab yang agak asing kudengar.aku ada dibaris belakang mendengarkan dengan baik.sedih,haru dan gembira,bertemu dengan mereka ini,aku merasa dunia makin membaik,ada kehidupan disini harapku…
Bersambung…

Label:

Selasa, 30 November 2010

SEX Pranikah,sebuah Konsekuensi yang tak "selezat" Rasanya.

Say NO or NOT....
katakan Tidak atau Jangan
SEX Pranikah atau sex bebas,sebuah Konsekuensi yang tak "selezat" Rasanya.
memang tak dapat dibantah bahwa pacaran akan selalu melibatkan tidak hanya kontak perasaan,disana selalu saja ada "sentuhan fisik", kasarnya suka saling raba-raba. ketika di tanyakan pada salah satu pasangan, kok pacaran harus saling raba??? dengan entengnya pasangan itu menjawab " because love is blind",katanya wajar dong main raba,abis cinta itukan buta (gak ngelihat),jadi main raba dooonk, Gubraaaaak!
Baca selengkapnya »

Label: