Minggu, 12 Desember 2010

Sang Peziarah

      Sore hari yang merah,mataku menatap kaku di rimbun tulang belulang manusia,di sekitaran jalan yang dulu dikenal sebagai perintis kemerdekaan kota Makassar,tulang-tulang yang dulunya dimiliki jasad cantik dan tampan,kini berselimut debu,kota ini kosong,sudah dua hari aku meninggalkan perahuku,aku kehabisan makanan,terdampar di kota yang lagi-lagi kosong,seperti kota Bulukumba yang kusinggahi sebelumnya,kosong,merah,penuh debu. Ah aku tak tahan lagi,perutku tak menyentuh makanan sejak tujuh hari terakhir,bahkan daun-daunpun sulit kutemukan.tas ransel yang kubawa isinya tak pernah bertambah atau berkurang,namun terasa makin hari makin membebaniku,ransel tua ini menjadi temanku sejak kekacauan ini terjadi. Tidak dapat kupastikan dengan jelas,dari catatanku aku menduga bahwa sejak huru hara ini terjadi aku telah menjadi gelandangan selama Sembilan bulan. Dan beruntung hingga hari ini tas ransel kusam ini masih menemaniku,isinya bagiku amat berharga melibihi dunia dan seisinya,sebuah mushaf qur’an dan terjemahan,dan sebuah kitab hadist tebal gabungan dari shahih bukhari dan Muslim,dan beberapa catatan dari kakekku yang beruntung wafat sebelum huru hara ini menghancurkan peradaban,sebuah senter besar dan pisau dan sebuah pistol revolver dan beberapa peluru yang kutemukan ditangan sebuah mayat yang mulai menjadi belulang beberapa bulan lalu,pakaianku yang menempel di tubuh empat lapis belum pernah kuganti sejak aku “menjarah”sebuah mall yang luluh lantak di  kota  tak berpenghuni,aku tak yakin kota apa waktu itu,tapi dari daratannya aku sedikit menduga itu kota kendari,dan pakaian ini,baunya masih sama dan akan selalu  sama sejak aku pakai pertama kali hingga robek sana sini,yah bau debu amunisi atau apalah,seperti itu baunya.aku kurang mengakrabi  bau lain selain harumnya Bau Bunga. Karena sebelum huru hara ini terjadi ibuku adalah seorang penjual Bunga dengan usahanya yang cukup laris. Aku akrab dengan Harumnya Bunga, aku dan ayah dan serta tujuh saudaraku yang lain juga terlibat dalam membantu ibu memajukan usaha bunganya, ayahku seorang ustadz sering mengisi ta’lim di masjid,beliau juga memiliki usaha peternakan sapi berbisnis atau bedagang baginya adalah ibadah besar,beliau percaya bahwa berdagang adalah pintu rejeki terbanyak dari pintu rejeki lainnya,namun tanggung jawabnya sebagai da’i dilaksanakan dengan  penuh amanah. Begitulah, dan pakaian ini masih menempel dengan warna yang berubah menjadi kecoklatan,hampir seirama dengan rambutku yang juga kecoklatan dan kusam serta tidak tertata baik,gondrong kata orang-orang dijaman bapakku,dengan jenggotku yang makin memanjang,aku kelihatan seperti seorang ulama timur tengah berusia enampuluh tahun padahal usiaku saat ini masih beranjak delapan belas tahun. Aku menyisir sepanjang kota kosong ini,pandanganku kulempar jauh dari tempatku berdiri,saat ini aku masih terlalu yakin bahwa aku sendiri,hingga aku melihat seekor kucing berbulu abu-abu,mencakar-cakar dinding sebuah bangunan besar yang didindingnya penuh bertulis cat merah,ada beberapa kalimat yang di tulis sangat besar “GANYANG JIRAN RAKUS”,“TOLAK IDEOLOGI-SPRITUAL KUSAM WAHHABY, ANTI DEMOKRASI”, ”HIDUP DAN MATI DENGAN SOSIALISME-IMAMAH”, “SATU KATA NEW WORLD ORDER!!” sebuah kata yang membuatku jijik,  propaganda revolusi dimana-mana, sebuah awal dari malapetaka. Tak kuhiraukan tulisan itu,aku tertarik pada kucing itu,sama denganku makhluk yang masih tersisa pikirku. Aku mencoba mendekatinya,memperhatikannya,ragu dan khawatir bahwa kucing ini mutasi yang mungkin saja taringnya beracun dan runcing. Aku memperhatikan dinding,cakarannya meninggalkan bekas yang jelas, “meooong” suaranya memperjelas bahwa dia kucing biasa juga,dan memperjelas bahwa dia bukan kucing kelaparan,mencakar dinding kenapa pula dengan dindingnya,apakah dia juga membenci tulisan-tulisan revolusioner sepertiku,aku tersenyum sendiri,aku tahu bahkan burung-burungpun juga membenci keadaan ini,revolusi. Kucing itu memandangiku sesaat dan berlalu pergi,melewati sebuah celah dinding yang lobang,aku menghela napas,aku merasa  kehilangan aroma makhluk hidup. Kuperhatikan kembali bangunan ini, papan namanya masih tersisa sepotong, tapi aku masih bisa mengeja potongan logam Billboard bertuliskan “Four”. Empat…,aku coba mengingatnya,hmmm yah Carre four, sebuah swalayan besar waktu itu,sebuah swalayan yang sering muncul di televisi,akibat berita tentang huru hara dan penjarahan,tapi aneh, disemua tempat swalayan  telah dibakar dan dijarah para perusuh. Bagiku cukup menyisakan pertanyaan jika masih ada swalayan yang utuh, lebih aneh lagi kalo Cuma papan iklanya yang rusak. Namun bagiku tetaplah lebih aneh bertemu kucing abu-abu segar bugar. Penasaran, Aku mengikuti arah perginya kucing itu, lubangnya tetap kecil bagiku padahal aku tak segemuk dulu. Aku memutar otak untuk masuk  ke swalayan ini,berharap aku bisa kembali bugar seperti kucing tadi,aku mengitari bangunan itu,lewat pintu belakang.ada sebuah basement disana, lamat-lamat kudengar sebuah deru mesin, aku tak yakin.terus berjalan masuk ke basemet yang dulunya dijadikan parkiran,bukan menebak disana masih ada tertulis jelas Parking Area,di sudut yang lain tertulis “Ikuti arah ini” disudut yang lain lagi masih ada tulisan “lucky  Jalur Kanan”. Aku teringat sebelum kakekku wafat beliau pernah menghadiahkan aku sebuah lucky, kendaraan mungil serupa mobil tapi lebih kecil lagi, tak memakai bahan bakar seperti zaman kakekku,tapi menggunakan charge baterai sebagai powernya. kendaraan buatan china yang begitu popular dalam satu decade terakhir sebelum bom pertama meluluhlantakkan Jakarta bulan February 2031 atau satu setengah tahun sebelum hari ini.yah tepat satu setengah tahun sebelum Pasukan ASEAN Uniforce menyatakan perang terhadap negeri ini,akibat ulah jenderal ambisius Pradewo dari klan Illuminatus yang melakukan kudeta dan akan menganeksasi seluruh Negara ASEAN untuk menjadi bagian New World Order.
“Haloooooo, hoiiiii”. Aku berteriak ,berharap ada yang mendengar
 oiii..oiiii..oiii …. Sepertinya aku mendengar suara teriakan,ku ulangi teriakanku, suara balasan itu kembali muncul,kuulangi lagi dan lagi,hmmmm itu hanya gema suaraku sendiri.aku berjalan makin kedalam,sebuah tangga menuju lantai satu,kuikuti berputar melingkar keatas,ragu-ragu mataku tetap kulempar jauh kedepan, pengap bau anyir dan entahlah bau aneh lainnya seakan mengerubutiku saat aku hampir memasuki mulut lantai satu gedung ini,gelap aku menyalakan senter,langkahku gemetar, perlahan pistol revolver kukeluarkan,aku takut dan trauma ketika berada di sebuah kota keadaannya pernah seperti ini,seolah dejavu tapi nyata,pengalaman dikejar sekelompok kanibal kelaparan dikota sebelumnya membuatku lebih hati-hati.kalau bukan karena kelaparan aku lebih memilih tinggal diperahu dan tetap berlayar hingga kutemukan peradaban yang lebih normal dari keadaan ini. ‘kreeeeek’ aku menginjak sesuatu suara gemanya keras,aku terkejut menoleh kebawah sepertinya aku menginjak sesuatu yang akan membuatku merinding,tengkorak kepala mungkin pikirku,senter kuarahkan kekakiku,lega ternyata hanya sebuah jam meja berbentuk elips ,aku memungutnya jam itu masih aktiv,menunjukkan waktu pukul 4:42,hampir maghrib.aku maju terus,suara deru mesin makin terdengar dekat,sepertinya suara genset,antara gembira dan was-was,berharap ada manusia normal disana bukan kanibal egois.aku mendekati sumber suara itu,makin dekat makin terdengar jelas,aku berusaha memastikan suara deru itu adalah mesin genset,aku mencari ruangan yang berlampu,namun gelap masih menyelimuti,kususuri lemari-lemari yang dulunya memajang produk-produk retail,tikus-tikus sekarang menjadi penghuninya,aku makin masuk kedalam,kali ini aku bulatkan hati,dilemma antara mundur kemudian kelaparan,atau maju dengan resiko disergap kanibal,tapi kemungkinan mendapatkan makanan.
                    ***
    Tikus-tikus ini terdengar makin riuh,anehnya aku merasa tidak terganggu sama sekali,padahal hewan ini amat sangat menjijikkan bagiku sebelumnya,suara tikus-tikus ini  sekarang seperti suara mangkuk bakso yang berbenturan dengan sendok ,yah mangkuk bakso dengan bumbu yang pas!dan saus tomat tambah ayam goreng,awww awww aku makin lapar,bakso tikus pikirku. “nanti saja” aku bergumam kecil.kuteruskan langkah-langkah kecilku,aku sampai pada sebuah tangga yang sepertinya juga meliuk kanan menuju lantai di atas. Kuikuti naluriku bergerak, tiba-tiba suara yang tak asing bagiku kembali terdengar ‘duarrr’, sebuah bom namun entah dimana kali ini mendaratnya,sepertinya sangat jauh,suara bom dalam sehari ini telah kudengar empat kali,namun intesitasnya makin berkurang,beberapa bulan lalu suara bom bersahut-sahutan dalam seharinya ratusan kali.semoga kekacauan ini segera berhenti,semoga negeri ini kembali dipimpin pemerintah,yah kali ini aku benar-benar menyadari arti pentingnya sebuah pemerintahan, chaoss besar melelahkan keadaan yang kacau ini,melelahkan pula melihat tangga menuju lantai dua ini lebih panjang dari tangga sebelumnya.
aku makin yakin sumber suara ini ada dilantai ini,sepertinya lantai ini lebih bercahaya dari lantai sebelumnya,baunya pun lebih manusiawi,aku bergegas naik,terburu,hampir hilang kendali dan mawas diri,tiba-tiba "ngaoooooo" lagi-lagi aku menginjak sesuatu,kali ini aku yakin sebuah kepala,yah sebuah kepala,sepersekian detik aku menoleh kebawah,benar saja tak salah sebuah kepala kuinjak,kepala kucing yang tadi,kontan sebuah cakaran menggamit tumitku,ahhh pantas suaranya berbunyi ngaoooo,aku makin merasa lapar dengan kekagetan ini,kucing itu melompat dan berlari,aku memperhatikannya memasuki sebuah ruangan yang kelihatannya bercahaya didalamnya,aku mengikutinya, beberapa puluh meter sebelum mendekati pintu ruangan itu sebuah angin panas dan suara tembakan menyambar kedekat telingaku spontan aku tiarap,dorr..dorr beberapa rentetan tembakan membuatan kelipan cahaya disekitar tempatku tiarap,lalu disusul tembakan sahut menyahut yang kesemuanya mengarah padaku,aku benar-benar ketakutan,hingga tak sempat berpikir untuk menggunakan revolver tua ini.

"siapaa disanaa?" suara dari arah depan terdengar,aku diam,bingung,sebuah tembakan kembali mengarah hampir mengenai betisku.
" saya pak, nama saya Muhammad Pak,muhammad Fathul bari" jawabku gugup bercampur antara takut dan lapar
"kamu dari mana,dan berapa jumlah kalian disitu?" kembali suara itu menggertakku
"aku sendirian pak,aku cuma singgah cari makan"
"baiklah,tinggalkan senjatamu jika ada,berdiri dan masuklah diruangan yang ada lampunya,kamu mengerti?"
"baik pak,jangan tembak saya,kalo kalian tidak suka saya bisa langsung pergi dari sini pak"
‘ayo cepat,sebelum kami menghabiskan peluru kami ketubuhmu” suara itu makin menakutkan
Aku bergegas berdiri menuju ruangan yang dimaksud,,disana ternyata lebih luas dan terang,dan baunyapun lebih menyenangkan,sekelompok orang tiba-tiba mendorongku masuk kedalam,mereka berpakaian militer dan berjanggut lebat, didalam ruangan yang terang itu aku melihat sekumpulan buku-buku disusun rapi,sebuah karpet berwarna biru,sebuah radio komunikasi beberapa perlengkapan elektronik,sepertinya,aku kurang tahu benda apa itu berdampingan dengan radio kominikasi,yang dicolok disebuah stop kontak,ruangan yang terang dan berlampu,akupun paham bahwa ini adalah markas,tapi entahlah markas kelompok mana,maklum setelah huru hara ini terjadi,dan pemerintahan dikudeta militer,maka banyak kelompok bersenjata bermunculan dan berperang satu sama lain.
“duduk” suara agak berat dari seorang lelaki berjanggut lebat,aku menaksir umurnya sekitar lima puluh tahun
“darimana asalmu nak”
“aku dari kabupaten vita to bungku” jawabku
“kamu agama apa ?”tanyanya lagi
“aku muslim”
‘bagaimana kamu bisa ada disini?”
Pertanyaan ini cukup panjang kujawab,aku menceritakan dari awal hingga akhirnya aku sampai kegedung ini. Orangtua berjenggot lebat ini menanyaiku cukup lama,setelah melihat aku sangat kelelahan dan kepayahan barulah aku disodori makan,sebuah roti kering berkuah serta tiga butir kurma,makanan yang aneh tapi tetap saja sangat nikmat bagiku yang tak menyentuh makanan selama seminggu,aku benar-benar lahap. sehabis menikmati makanan,kami meneruskan shalat maghrib berjamaah,orang tua yang menanyaiku tadi menjadi imam,selesai shalat aku memperhatikan ada sekitar dua puluhan orang mengikuti shalat ini,mereka berzikir sendiri-sendiri dengan khusu’. Ada rona harap diwajah-wajah mereka,butiran bening mengalir dari kelopak mata mereka yang basah, demikian juga denganku.
                        ***
Seusai shalat maghrib, seseorang dari mereka usianya kira-kira hampir sama dengan imam tadi  memberikan tausiah kepada kami, dia mengingatkan kepada kami untuk lebih sabar dalam menghadapi fitnah ini,agar lebih mengokohkan persaudaraan sesame muslim,dan beberapa istilah arab yang agak asing kudengar.aku ada dibaris belakang mendengarkan dengan baik.sedih,haru dan gembira,bertemu dengan mereka ini,aku merasa dunia makin membaik,ada kehidupan disini harapku…
Bersambung…

Label: